Thursday, January 23, 2014

Yang Tak Terselesaikan

Siang itu aku masih sibuk merogoh kantong jaket untuk mengambil kunci kamar kos, tiba-tiba Riya datang dengan wajah masam. Belum sempat aku bertanya tentang apa yang terjadi tapi dia sudah lebih dulu masuk ke kamarnya, terdengar suara badannya yang terhempas di kasur. Kuurungkan sejenak niatan untuk mencari kunci yang masih bersarang di kantong jaketku.

“Aku boleh masuk?” Di sela pintu kamar Riya –kamar yang berada tepat di depan kamarku— suaraku lirih dan pelan-pelan terbawa angin hingga akhirnya sampai ke telinga Riya.

“Ya.” Riya menjawab dengan datar.

Kusaksikan kamar Riya amat berantakan, berbagai kertas berserakan tak beraturan. Padahal, meski Riya itu cuek tapi untuk urusan beres-beres kamar, aku selalu kalah rapi.

“Semalam kau belajar sungguh-sungguh ya nampaknya, aku turut senang.” Kalimat berikutnya keluar begitu saja dari mulutku setelah memeriksa kertas-kertas yang berserakan itu, kalimat yang nampaknya amat keliru.

“Ahhhhh. Mau belajar sungguh-sungguh atau tidak, juga sama saja.” Ledakan amarah terdengar dari suara serak Riya disusul dengan seabrek kertas ujian yang ia sodorkan padaku.

Aku menghela napas pelan, membiarkan Riya tenang sejenak. Sesekali aku menepuk pundaknya, sebab kata-kata kurasa hanya akan sia-sia. Namun sayangnya, lagi-lagi aku mengulangi kesia-siaan yang keliru.

“Sudah. Aku juga remidi banyak kok. Nilaiku buruk-buruk, kau tidak sendiri.” Begitu kalimat yang sebenarnya kutujukan untuk membesarkan hatinya.

“Maksud kau apa ha? Kau bilang nilai delapan, sembilan, bahkan seratus itu buruk? Teman satu kelas kau tadi menitipkan kertas ujian kau padaku, lihat saja di bawah  tumpukan kertas ujianku yang kau pegang itu. Tidak usah menghiburku dengan merendahkan diri kau seperti itu, karena justru semakin menyakitiku! Sudah aku mau keluar dulu. Assalamu’alaykum.” Kini Riya benar-benar meledak. Meninggalkan aku yang masih terpaku di kamarnya dengan setumpuk hasil ujianku –yang ternyata berada di bawah tumpukan kertas ujian Riya—.

“Wa’alaykumssalam.” Lirih aku membalas salam Riya.

***


Keesokan harinya, aku masih tak mau bersuara. Bukan karena aku marah, bukan pula aku tak mau memulai, tapi karena aku tak mau keliru untuk yang kesekian kalinya.

“Mel, mau nitip makanan tidak? Aku mau beli lauk.” Suara riang itu menelusup ke dalam kamarku, suara dari orang yang sangat aku kenal, Riya.

“Eh, iya, nitip nasi pecel saja.” Tukasku singkat setengah kaget, masih canggung karena kejadian kemarin.
Sepuluh menit kemudian Riya datang dengan dua kantong plastik yang ia tenteng di kedua tanggannya. Para penghuni kos sudah berangkat ke kampus pagi itu, tersisa aku dan Riya yang kebetulan sama-sama kuliah siang. Jadilah kami menikmati sarapan di ruang makan, berdua. Dugaanku, sarapan kali ini akan berjalan amat kaku. Beruntung, dugaanku seratus persen keliru.

“Anu, aku mau minta maaf soal yang kemarin. Kau tahulah bagaimana aku.” Riya membuka percakapan di meja makan, disusul dengan hembusan napas legaku.

“Akhirnya!!! Kau sudah sehat kembali. Tidak apa, hanya saja aku selalu ketakutan jika kau seperti kemarin itu. Kau amat meyeramkan, sungguh!!!!” Iya, emosi Riya yang meledak seperti kemarin itu bukan hal baru bagiku, hanya saja aku belum terbiasa. Namun yang aku suka dari Riya, meski ketika marah amat meledak-ledak tapi akan reda dengan cepat. Sebab dia pernah bilang padaku, daripada berlarut-larut memendam kesal lebih baik diungkapkan saja. Caranya menyelesaikan masalah memang cenderung mirip laki-laki, saat itu juga dan tak mau bertele-tele seperti perempuan. Namun aku perempuan, yang terkadang tak siap dengan sikap ‘jantan’ Riya.

“Haha. Maafkan aku. Kemarin itu aku benar-benar sedang kesal. Seminggu ini aku belajar mati-matian, tapi nilai ujianku ya Tuhan, tetap sangat menjijikkan.” Dari gaya bicaranya aku makin yakin bahwa Riya benar-benar sudah ‘sembuh’.

“Aku juga minta maaf, tentang kata-kataku yang melukai hati kau kemarin itu. Maaf ya. Kau harus tetap semangatt!!” Aku menjabat tangan Riya, sebagai simbol bahwa kami sudah tak ada konflik lagi.

Usai menuntaskan sarapan aku bergegas bersiap menuju kampus, meninggalkan Riya yang kuliahnya masih tiga jam lagi. Aku dan Riya satu fakultas, tapi berbeda jurusan. Aku Mela, mahasiswi tingkat dua yang dikenal berprestasi. Dua semester yang telah aku lalui menghasilkan cumloud, membuatku dengan mudah mempertahankan beasiswa. Aku bukannya sombong, aku hanya bicara tentang fakta. Riya, dia teman baikku, selain satu kos dan satu fakultas, kami juga satu organisasi. Riya anak yang periang, namun terjebak pada jurusan kuliah yang tak pernah ia nikmati. Jiwanya utuh di dunia menulis, sungguh tak bisa dibagi. Berbeda denganku yang rajin sekali kuliah, dia hanya sekali dua kali masuk kelas. Hal ini cukup merepotkanku ketika Ayah Riya mengadakan sidang dadakan dengan datang ke kosan. Berbagai alasan aku buat untuk melindungi Riya. Riya sudah bukan kuanggap teman lagi, dia sudah seperti saudara kandungku sendiri.

“Mela!”

Suara teriakan dari lobi jurusan menghancurkan lamunanku, bergegas aku memutar badan melihat  sang empunya suara.

“Rani, ada apa?” Kataku sambil merespon jabat tangan dari Rani.

“Mel, kau tau tidak Riya dimana? Hari ini ada ujian dan dia tidak masuk.”

“Apa? Dia tadi bilang akan ke kampus. Oh ya sudah, nanti aku hubungi dia. Barangkali Riya sedang tak enak badan. Aku permisi dulu ya Ran.” Aku bergegas meninggalkan Rani, segera ingin sampai kos dan bertemu Riya.

Aku tahu, Riya makin buruk akhir-akhir ini. Meski sempat hanyut dalam euforia semangat belajar tapi itu hanya formalitas, hatinya entah sedang memikirkan judul cerita apa. Pantas saja kalau hasil ujiannya masih tetap jelek, dia belum sepenuh hati atau bisa dibilang tak akan pernah bisa sepenuh hati memperjuangkan kuliahnya ini. Tiap hari meski nampak riang, aku tahu pasti ada waktu buatnya untuk menangis. Hanya luarnya saja yang nampak tak ada apa-apa, tapi hatinya remuk seremuk-remuknya.

***

“Aku tadi ke kampus sebelah, ikut seminar kepenulisan. Kau tahu, penulisnya adalah idolaku. Sayang sekali kalau sampai aku lewatkan. Sudah cukup waktuku habis selama ini untuk mengejar apa yang tak ingin kukejar, sesekali boleh lah aku keluar ‘lintasan’.” Enteng saja Riya menjawab pertanyaanku tentang kenapa dia tak ikut ujian.
“Tapi kenapa tadi kau tak bilang padaku?” Aku masih jengkel.

“Bilang kepada kau sama saja seperti maling yang mau kabur dari penjara tapi minta ijin dulu sama polisi yang jaga. Hahaha!” Riya nampak riang usai mengikuti seminar kepenulisan, tak ikut ujian bukan suatu masalah baginya.

“Aku sedang serius! Sampai kapan kau akan seperti ini ha? Sampai kapan kau akan merepotkan banyak orang? Kenapa tak sekalipun kau menghargai kekhawatiran orang lain? Semua orang itu menyayangi kau, peduli pada kau, tapi apa balasan kau? Kau boleh saja benci dengan kuliah kau saat ini, tapi membencilah dengan bertanggung jawab!” Kusaksikan air muka Riya mulai berubah, wajahnya tertunduk. Dan aku masih dengan marahku. “Apa kau tidak kasihan dengan Ayah kau ha? Ayah kau sudah tua, dia orang tua kau satu-satunya! Dan kau, kau! Kau seenaknya saja kuliah! Sembarangan, asal! Kalau kau memang mau berhenti, berhenti saja! Jangan berjalan tapi berhenti sembarangan seperti saat ini, bikin macet! Bikit rumit! Kau harus tegas dengan hidup kau, Riya!!” Entah setan apa yang merasuki diriku, kurasakan sikap ‘jantan’ Riya merasuk ke selurih sendi-sendi tulangku lalu menelusup ke pembuluh darah hingga ke seluruh tubuhku. Aku seperti dirasuki Riya, iya kali ini aku yang meledak.

Setelah kesetanan, aku sengaja meninggalkan Riya sendiri. Malam itu akau menginap di kosan temanku. Demi Allah, aku bertindak seperti ini sepenuhnya hanya karena aku sayang pada Riya. Aku tahu Riya ‘sakit’, dan aku ingin dia ‘sembuh’. Setahun setengah melihat kawan baikku ‘kesakitan’, cukup membuat aku ikut tersiksa, tak tega.

***

“Apa? Riya hari ini tak masuk lagi?” Aku lemas seketika mendengar laporan dari Rani, teman sekelas Riya yang rutin melaporkan kondisi Riya padaku.

“Iya, padahal hari ini ada 3 makul yang ujian. Sayang sekali Riya tidak masuk. Oh ya sudah, aku permisi dulu yan Mel, masih ada kuliah.” Rani berlalu meninggalkan setumpuk sesak dalam dadaku. Riya bukan anak yang mudah tersinggung, apalagi sampai lari seperti ini. Tadi pagi aku sempat pulang kos, kamar Riya sudah terkunci, kupikir dia sudah ke kampus. Kupikir kata-kataku kemarin membuat Riya tergerak hatinya, tapi aku keliru. Apa mungkin Riya amat terpukul dengan marahku, lalu memutuskan untuk pergi.

Sebulan sudah Riya pergi, dia tak sepenuhnya menghilang. Sesekali aku menyapanya di sosial media, dia merespon dengan baik. Sekali lagi kutegaskan, Riya bukan tipe orang ‘penyimpan’, aku paham benar marahku tempo hari bisa dicerna dengan baik olehnya. Namun dengan alasan yang tak kumengerti, dia tak pernah terbuka tentang masalah kelanjutan kuliahnya dan apa yang sedang ia lakukan. Pernah ingin berkunjung ke rumahnya, namun dia bilang sedang tak ingin bertemu siapa pun, aku memahami hal itu dan memilih untuk tidak memaksa. Hidupku mejadi sangat aneh tanpa Riya, tapi entah kenapa, aku punya firasat baik tentang Riya.

Genap empat bulan Riya tak membersamaiku, sore itu untuk melumerkan rindu aku pergi ke toko buku. Aku dan Riya memang sama-sama gemar membaca, dan toko buku adalah tempat hiburan paling menyenangkan. Tiba di toko buku aku langsung meghambur di etalase buku baru. Tak ada yang menarik, kebanyakan masih seputar percintaan remaja. Namun seketika aku tercekat, melihat setumpuk buku berjudul “Sebuah Buku”, covernya biru muda, tak banyak ornamen, hanya langit biru yang nampak timbul membelalakkan mata. Kuperiksa lebih teliti, dan pojok bawah kiri buku tertulis nama pena penulis: “RY”. Aku memeluk buku itu, memeluk Riya.

***
Seminggu setelah aku mendapat sekaligus membeli buku Riya, kami akhirnya bertemu.

“Ah, kau gila! Tak pernah cerita dan tiba-tiba sudah seperti ini!” Aku membuka percakapan.

“Haha. Aku ingat betul ketika kau marah besar waktu itu, aku ingin membalas semua kata-kata kau yang pedas itu dengan pembuktian. See, kau kaget! Itu tandanya aku berhasil. Haha. Dan satu lagi, aku tidak lagi bikin macet. Haha.” Riya terkekeh.

“Ah kau iniiiii yaaaa! Aku malu tiap ingat aku marah-marah dulu. Apa kau tak rindu padaku dan pada kawan-kawan kampus? Semua repot mencari kau! Ah aku sampai gila mencari-cari alasan tentang hilangnya Riya dari peradaban.” Kini aku mulai mengusik soal rindu.

“Haha. Maafkan aku, sudaah sangat sering merepotkan kau. Tapi kau sudah baca bukuku bukan? Setengah bab dari bukuku itu habis untuk menceritakan kau. Haha, itu wujud rinduku pada kau dan tentunya teman-teman. Bagaimanapun juga, aku hanya berada di tempat yang keliru, bukan orang-orang yang keliru. Kalian tak ada gantinya.” Riya melanjutkan.

Kami larut dalam obrolan yang panjang, Riya akhirnya menceritakan semuanya, dan satu yang paling aku suka, Ayahnya Riya telah menerima keputusannya. Riya tak banyak berubah, hanya terlihat lebih lepas dan tenang. Sesekali ia membenarkan letak kaca matanya. Memperlihatkan matanya yang nampak sayu, kurang tidur, maklum bukunya sedang naik daun dan dia mendapat tawaran mengisi seminar hingga ke luar pulau. Riya memang lelah, tapi dia bahagia, dan itu tak jadi soal baginya, lelah yang Lillah.

Mungkin bagi Riya, cerita ini sudah selesai. Selesai dengan happy ending. Tapi tidak bagiku, tidak bagi aku yang punya cerita ini. Aku Mela, mahasiswi tingkat dua yang dikenal berprestasi. Dua semester yang telah aku lalui menghasilkan cumloud, membuatku dengan mudah mempertahankan beasiswa. Aku yang dari dulu nampak jauh lebih bermasa depan ketimbang Riya. Padahal sebaliknya, aku hanyalah manusia korban sistem. Entah apa yang aku lakukan, sejujurnya aku memiliki cita-cita yang sama seperti Riya, menjadi penulis. Cita-cita sejak aku kecil, sejak aku pertama kali bisa mebaca, cita-cita yang aku bawa hingga detik ini. Namun aku terlalu pengecut untuk memperjuangkannya. Dan aku, masih terbelenggu dalam penjara yang aku rawat. Entah sampai kapan aku dipandang berhasil padahal aku sepenuhnya gagal. Entah sampai kapan.


<photo id="1" />

Tuesday, January 21, 2014

Ketika semua menjadi lebih rumit




Kupikir dewasa adalah masa paling menyenangkan, setidaknya kita tak musti banyak diatur. Tapi rupanya aku keliru, teramat keliru. Bahwa dewasa adalah titik dimana aturan makin menggunung, dan konyolnya, makin tidak realistis. Kita tak boleh bermain-main, tak boleh cengeng, sekalinya melanggar, sebuah statement langsung menderu di gendang telinga: “DASAR KEKANAK-KANAKAN!!”
Aku sendiri tak pernah ambil pusing menanggapinya, sebab bagiku, apa buruknya menjadi kekanak-kanankan? Dewasa hanya fase menyebalkan dan merepotkan. Cukup, tidak kurang dan tidak lebih. Aku suka sedih melihat para dewasa pulang larut, tak ada waktu untuk keluarga, bahkan untuk dirinya sendiri, hanya demi kertas bernominal itu. Ah, aku sebenarnya juga tidak naif, siapa yang tidak butuh uang? Hanya orang bodoh yang bilang tidak, dan juga hanya orang bodoh yang tidak mau berusaha mencarinya. Tapi, orang bodoh pula yang menghabiskan waktunya hanya untuk uang, uang, dan uang.
Selepas SMA aku baru menyadari, rupanya hidup itu keras. Aku bukan orang baru yang mendapat masalah besar di kehidupan ini, aku sempat ditinggalkan orang yang paling aku cinta, dan itu amat sangat menyakitkan! Dan detik ini, setelah delapan tahun aku kehilangan orang yang aku cintai, sakit itu datang lagi.  Sakit yang sama, bedanya, aku kehilangan diriku sendiri.
Usiaku hampir dua puluh, usia yang mustinya sangat produktif. Usia yang mustinya kuhabiskan untuk menikmati perkuliahan, sibuk mengerjakan tugas kuliah, tenggelam dalam proker-proker organisasi, berlomba mengejar beasiswa, kerja part time dan berbagai hal yang menyita waktu lainnya. Teman-teman sebayaku kusaksikan tengah melakoni semua hal yang aku jabarkan di atas, tapi aku tidak. Aku berbeda, aku tidak sama. Aku amat sangat menyedihkan. Bahwa ketika teman-teman sebayaku itu mengeluhkan kenapa sehari  hanya 24 jam, aku justru sebaliknya, kenapa waktu begitu lama tiap harinya. Kenapa 24 jam selalu menyiksaku dalam ketidaktahuan, dalam kebohongan, dalam kepalsuan, dan dalam berbagai paksaan tak tersirat?
Dalam satu setengah tahun terakhir ini, aku selalu mengeluhkan 24 jam yang amat menyiksa. Amat sangat, percuma sudah hidupku satu setengah tahun ini. Sebab hanya aku gunakan untuk mendzalimi bapakku, berpura-pura kuliah padahal aku hanya meratap di suatu tempat. Membual pada abangku yang semester lalu membiayai kuliahku. Semua tersebab egoku, bahwa aku ingin bebas dari segitiga yang bapak buat untuk masa depanku. Aku punya cerita sendiri, yang mereka tak pernah mau dengar, sedikitpun! Kupikir aku sudah menjadi anak penurut selama ini, dan aku lelah. Aku perlu dan butuh waktu untuk mengejar apa yang ingin aku kejar. Tapi tak ada yang mau mengerti!! Ingin rasanya mengaduh, tapi harus mengaduh pada siapa?????? Setiap orang hanya menyarankan untuk bertahan, bertahan, dan bertahan, tanpa memikirkan betapa sakit dan hancurnya aku!
Bukan tidak mungkin, aku sekarang sudah ada diambang ketidakwarasan. Aku lebih senang di kamar, menangisi diri sendiri, aku buruk sekali.
—prasasri,21-01-2014—
Dalam tangis dan keputusasaan..............................................................................................................

Saturday, January 18, 2014

Makhluk Sekaligus

Kau adalah sesegukan yang paling menyesakkan
Tapi kau adalah girang yang paling menyenangkan
Kau adalah ranjau yang paling menyakitkan
Tapi kau adalah kursi goyang yang paling menenangkan
Kau adalah banjir yang menenggelamkan
Tapi kau adalah air terjun yang menyegarkan
Kau adalah jarum yang menusuk, tinggalkan perih dalam luka
Tapi kau adalah kain kasa yang membelit, menyembuhkan luka

Ya, begitulah kau
Kau adalah makhluk sekaligus
Menyesakkan sekaligus menyenangkan
Menyakitkan sekaligus menenangkan
Menenggelamkan sekaligus menyegarkan
Menyebabkan luka sekaligus menyembuhkan

Kau adalah makhluk sekaligus, yang membuatku merasa dicintai dan diabaikan, sekaligus, dalam waktu yang bersamaan.

Monday, January 13, 2014

KMB 1


Usai mengikuti kelas EAP sekujur badanku basah kuyup diterpa bulir hujan dari UPTP 2B sampai kosan.  Sore  kali ini kehujanan benar-benar merenggut kehangatan. Namun aku tak pernah benci hujan. Setiap tetesnya, air hujan adalah kebahagiaan. Sisa gigil mendadak hilang sebab pesan singkat dari salah seorang sahabat karib membawa kabar yang menghangatakan.

“Men, besok aku pulangggg :D. Kita sarapan bubur di Manahan ya. Jarkom teman-teman yang lain.”

Sender: Jaya

Seketika hawa semangat menghangatkanku. Membuat aku dengan gesit membalas pesan singkat itu. Setelah mengiyakan permintaan Jaya, aku bergegas menjarkom SMS pemberitahuan akan ada   KMB (Konfrensi Melingkar Bundar) di Manahan. Kenapa kusebut Konfrensi Melingkar Bundar? Karena setiap kami berkumpul, formasinya selalu begitu, melingkar, bundar. Dan aku suka lingkaran, dimana setiap dari kami adalah jari-jari yang memiliki jarak yang sama dengan pusat lingkaran. Ya kami semua sama, tak ada beda kasta. Lingkaran juga lambang tak pernah putus, selalu berkesinambungan. Seperti persahabatan kita.

Namun mendadak aku tak begitu semangat, karena ternyata tak ada satu temanpun yang bisa datang di acara KMB besok pagi. Kuputuskan mengabarkan hal itu pada Jaya, dengan emot sedih bertubi-tubi.

“Haha, ya sudah tidak ada apa-apa. Dua minggu lagi aku akan kembali pulang. Kabarkan pada teman-teman, semoga kita bisa berkumpul.”

Sender: Jaya


***


Selasa, 9 Oktober 2012

Akhirnya kami menemukan hari dan tempat yang tepat untuk menyelenggarakan KMB yang dua minggu lalu sempat dibatalkan. Di belakang gerbang UNS, tepatnya di sebuah kedai bubur ayam KMB dilaksanakan. Jaya sudah memesan semangkuk bubur ketika aku tiba di sana, dia amat kelaparan karena semalam sampai di Solo sudah dini hari dan tak sempat beli makan. Aku, Risti, dan Fitri yang datang bersamaan langsung meledak melihat Jaya. Ini kali pertama kami bertemu setelah menyandang status Mahasiswa. Juga kali pertama kami jumpa setelah Jaya sejangkah lebih maju mengejar jas putihnya.  Aku antusias sekali. Dengan cekatan, kami lantas siap dengan formasi melingkar. Inilah KMB. Aku menikmatinya, sangat menikmati.

“Kamu katanya ada kuliah?” Tanya Nanda yang  baru saja datang lengkap dengan mata sembab khas orang baru bangun tidur.

“Nanti jam setengah delapan, ini kan masih jam enam.” Kataku sembari mengeluarkan beberapa materi kuliah untuk praktikum Kalkulus nanti. “Nih, aku mau pamer!! Yang kayak begini ini yang bikin aku nggak bisa tinggi-tinggi!” Lanjutku sambil menghempaskan modul kuliah yang seabrek di depan mereka.
Reflek seperti ayam yang mendekat setelah ditebar beras, mereka juga lantas berkerumun melihat ‘barang’ menyiksa itu.

“Ha???? Masih jaman yang kayak begini??? Kasihan banget! Aku dong, kuliah tinggal duduk, yang penting absen, nanti ujian tinggal ngopy materi temen. Udah deh, nilai minimal A. Minim hlo itu! Haha!” Nanda nampak sumringah menceritakan kuliahnya sampai menyamarkan mata kantuknya, membuat aku melongo sambil menelan ludah berulang kali.

“Yang bener, Nda? Aku sih Alhamdulillah juga udah nggak ada hitung-hitungan. Sejauh ini masih okelah. Tapi kalau lengah sedikit, mati di tempat aku!” Jaya yang nampak jaga jarak dengan seonggok kumpulan rumusku mulai bercerita.

“Waaah. Iyaa, Men! Aku sampai lupa. Kamu kan janji mau ceritain semua proses sampai kamu bisa ketrima di kedokteran.” Aku menagih janji Jaya beberapa bulan lalu, sedikit mengabaikan Nanda yang sukses berat membuat aku iri.

“Haha. Masih inget aja! Oke deh aku cerita.” Jaya buru-buru menuntaskan semangkuk buburnya dan bersiap memulai berkisah.

“STOP! Pause dulu. Aku laper. Mau pesen bubur dulu. Siapa yang mau pesan?” Nanda dengan sigap menghentikan sejenak aksi Jaya. Aku, Risti, dan Fitri lantas serempak mengangkat tangan, tanda kami juga ikut pesan.

“Oke, aku mulai nih ya. Dulu itu, waktu kita bareng-bareng ikut SBMPTN aku nggak lolos. Tapi aku nggak mau nyerah. Aku tetep ikut berbagai jalur mandiri. Kebetulan waktu itu kan UNS jalur swadana pendaftarannya paling awal. Nggak mau menyia-nyiakan kesempatan, aku juga ikut. Alhamdulillah aku diterima, tapi di Fakultas Hukum, bukan Fakultas Kedokteran. Karena berbagai hal, aku tetap ambil yang di UNS, tapi aku masih gencer ikut ujian mandiri. Tibalah di Unsoed, tempat itu harapan terakhirku. Semua usaha, doa, dan berbagai ibadah sunah aku maksimalkan. Sepenuhnya aku serahkan sama Allah. InsyaAllah niatku baik, dan pasti Allah memberikan jalan.”

Cerita Jaya terpotong karena empat mangkuk bubur datang, menyisakan wajahku yang melongo takjub dengan cerita Jaya. Jaya memberi kesempatan pada kami untuk sejenak meramu bubur dengan berbagai pelengkapnya. Ketika mengaduk bubur di mangkuk yang ada di hadapanku, pikiranku ikut teraduk. Semua orang selalu menyerah ketika nasi sudah menjadi bubur. Tapi memang apa salahnya menjadi bubur? Kita hanya perlu menambah kuah, suwiran ayam, sambal dan krupuk untuk menjadikan bubur ini tak kalah nikmatnya dengan nasi. Memang, sebenarnya tak ada yang benar-benar hancur, jika kita mau sedikit berpikir.

“Sambil kalian makan, aku lanjut ya ceritanya.” Kami berempat mengangguk. “Nah, karena UNS itu memang yang paling cepat masuknya jadi sambil menunggu pengumuman di Unsoed aku akhirnya tetap mengikuti OSPEK di Fakultas Hukum. Pas puasa pula waktu itu, tapi aku tetap menjalankannya ringan hati saja selama tiga hari. Ketika KRS an aku juga ikut, karena masih paketan jadi tak terlalu ribetlah. Dan, tak kuduga. Ketika pengumuman Unsoed aku justru diterima. Badanku lemas seketika, ada namaku di sana! Aku LOLOS Fakultas Kedokteran Unsoed. Aku bakal jadi dokterr!!! Percaya atau tidak, aku nangis Men!!! Rasanya bener-bener nggak ada yang sia-sia. Akhirnya bisa juga membuktikan dan menepis semua anggapan miring itu. Ahh, aku tidak kuasa menggambarkan kebahagiaan pada hari itu. Ya, begitulah ceritanya. Haha.”

Semua tercengang, melupakan semangkuk bubur ayam yang mulai dingin di hadapan kami. Aku sendiri hilang kesadaran, seperti ditampar berulang kali. Sesusah payah itu Jaya mengejar mimpinya, itu namanya perjuangan. Segelas teh hangat yang nangkring di dekat mangkuk bubur aku raih, entah bagaimana namun aku merasa wajahku terpantul di permukaan air teh. Sebuah tanya kemudian mempermainkanku, “Lantas kau wahai sang empunya wajah yang memantul di air teh ini. Apa yang sudah kau lakukan untuk mimpi kau? Kenapa kau begitu angkuh meminta dan menuntut hakmu pada Tuhan? Padahal kewajibanmu tak pernah –benar-benar—kau jalankan! Kenapa kau begitu meratap ingin dimengerti?  Padahal kau terlalu acuh pada apa-apa yang mustinya kau lakukan! Kenapa kau selalu paksa Tuhan mengabulkan apa yang kau impikan? Padahal kau tak pernah benar-benar berkeyakinan untuk meminta! Kau ini kecil, usahamu kecil, harapanmu kecil, semangatmu kecil, kenapa berani-beraninya meminta hal besar pada Tuhan tanpa memperbaiki diri dulu?”

“Dih, kenapa kalian malah pada diam? Ayolah giliran kalian bercerita tentang kuliah kalian. Oh ya, aku mau menambahkan sedikit. Satu yang harus kalian tahu, setelah kalian berhasil mendapat yang kalian impikan maka Tuhan akan semakin menguji kesungguhan kalian, caranya ya dengan ujian-ujian kehidupan. Tuhan butuh diyakinkan, Tuhan butuh pembuktian dari kita atas apa yang telah Dia beri. Aku juga merasakannya sekarang, diterima di Kedokteran bukanlah pencapaian yang sesungguhnya. Semuanya baru dimulai, berkali lipat lebih berat. Asdos yang killer, materi yang luar biasa. Aku minta doa dari kalian ya, semoga dikuatkan dan dimudahkan.” Jaya menambahkan dan seketika menghancurkan bayangku di permukaan air teh.

Kami mengamini dengan serempak. Mitha yang baru datang juga langsung larut dalam aura pejuangnya Jaya. Kebetulan Mitha kuliah di jurusan Kebidanan jadi untuk makulnya ada yang mirip dengan Jaya, jadilah mereka berdua asyik bertukar pikiran. Membicarakan matkul Anatomi yang katanya bikin teler. Aku yang notabene lemah dibidang seperti itu mendadak antusias mendengarkan, berkali-kali bertanya, berkali-kali pula Jaya dan Mitha bahu membahu menjelaskan. Kemudian disusul Risti yang menceritakan berbagai tugasnya, dia kuliah di jurusan Arsitektur yang terkenal dengan tugasnya yang menggunung. Sebuah statement yang aku tak akan lupa dari Risti, “Anak Arsitektur itu kebanyakan tidak punya mimpi! Mau tahu kenapa? Karena mereka jarang tidur.” Aku terbahak luar biasa. Fitri yang melakoni lintas Jurusan ke Akuntansi justru menceritakan kabar menyedihkan, hampir dua minggu sudah ia tak kuliah karena sakit. Ah, anak ini selalu aja membuatku panik, susah pula kalau disuruh makan! Sedangkan Nanda masih terus berkoar dengan kuliahnya yang melenakan, dia kuliah di FISIP tapi aku lupa nama jurusan kuliahnya.

Tak terasa, waktu memberikan batas bertemu. Aku menilik arlojiku, sudah pukul 07.35 wib, terlambat lima menit. Beruntung masih ada lima menit untuk waktu maksimal keterlambatan. Dosen makul kali ini amat disiplin, jujur aku tak berani terlambat parah seperti pada makul lainnya. Dengan bergegas aku meminta Fitri untuk mengantarku ke kampus, tak kusangka Jaya dan teman-teman lainnya malah ikut mengantar. Alhasil, pagi itu adalah berangkat kuliah yang paling menyenangkan, sebab aku diantar (calon) orang-orang sukses!

Meski terlambat masuk kelas, meski terlambat mengerjakan soal dan akhirnya aku tak berhasil menyelesaikan soal dan musti ikut perbaikan pekan depan, tapi aku tetap bahagia. KMB benar-benar membesarkan hatiku. Riang sekali rasanya. Karena aku terlambat untuk menyerap ilmu-ilmu kehidupan yang tak akan aku dapat di kelas kuliah. Kusebut ini keterlambatan yang berkualitas.

Saturday, December 21, 2013

Sebatas Batas


“Mbak, ayo gowes.”

“Ah, aku ameh les Fisika.”

“Yah, dilit wae.”

“Wis telat kok iki, dilit engkas diampiri kancaku. Suk Minggu wae.”

Begitu kejadian dua tahun silam. Ketika usiaku 17 dan dia 13. Ketika aku beranjak dewasa dan dia beranjak remaja.

“Nan, ayo gowes.”

“Ah, aku ameh les Bahasa Inggris.”

“Yah, dilit wae.”

“Wis telat iki, dilit engkas diampiri kancaku. Gowes o dewe.”

Begitu kejadian dua minggu silam. Ketika usiaku 19 dan dia 15. Ketika aku dianggap dewasa dan dia menginjak remaja.

Dua tahun lalu aku menolak, dan dua minggu lalu aku ditolak dan diacuhkan. Tak ada janji ganti hari, malah justru menyuruhku sendiri. Karma memang dua kali lipat lebih menyayat. Aku percaya apa yang kita lakukan tempo hari –entah baik atau buruk—pasti akan menimpa kita beberapa waktu setelahnya.

“Nduk, adik’e dijogo, ojo ditinggal.”

“Halah, ben wong wis gedhe.”

“Weh, yo ra ngono kui.”

Begitu pesan bapak dua tahun silam. Ketika usiaku 17 dan dia 13. Ketika tinggi badanku masih tak terlalu jauh dengannya.

“Nan, mbak’e dijogo, ojo ditinggal.”

“Halah, ben wong wis gedhe. Ben ajar kendel.”

“Weh, yo ra ngono kui.”

Begitu pesan bapak dua minggu silam. Ketika usiaku 19 dan dia 15. Ketika tinggi badanku hanya seketiaknya saja.
Dua tahun lalu aku menolak, dan dua minggu lalu aku ditolak dan ditohok. Tak hanya penolakan, tapi juga pemojokan. Karma memang dua kali lipat lebih menyayat. Aku percaya apa yang kita lakukan tempo hari –entah baik atau buruk—pasti akan menimpa kita beberapa waktu setelahnya.

Kini usianya 15, baru saja terima rapot dan sebentar lagi masuk SMA. Masa pubertas dia alami dan tentu saja banyak batas yang kemudian muncul pada kami. Kini jarang sudah kami jalan berdua di pameran buku. Dia lebih gemar jalan dengan teman-temannya. Dunia baru sedang merutuknya. Aku paham, sebab dulu juga sempat berada pada posisi yang sama. Lantas kehilangan dan penyesalan itu berdatangan. Sialnya, kedatangan mereka beriringan. Sesekali aku mempersilahkan mereka singgah tapi tak jarang aku jengah dengan kedatangan dua rasa tak enak ini.

Maka sebelum terlambat, semoga kita tak –lagi— salah tempat menaruh penolakan. Sebab terkadang, menolak –yang kejam— hanya sekedar menunda penolakan balik dari orang tersebut dengan kadar yang lebih sadis.

Semoga ini sebatas batas sementara yang kemudian berhenti dan  berganti dengan kebersamaan yang tak terbatas.

Wednesday, December 11, 2013

Bunga Tidur yang Mekar di Dunia Nyata

Ubun-ubunku disengat panas maha dahsyat, pening sekali. Matahari rupanya sedang ingin cari perhatian, panasnya mendidihkan kepala semua orang.  Barangkali mirip kepalaku ketika usai ulangan Kimia atau semacamnya.  Ruang kelas XII IPA 2 akhirnya menjadi tempat pilihan untuk mendinginkan diri dan merenung sejenak. Entahlah, aku rasa waktu berjalan begitu membabi buta atau mungkin aku yang terlalu men'siput'kan diri. Aku lemaskan badan, menikmati perenungan ini dengan kawan-kawan terbaik semasa kelas XI.

 "Nggak kerasa udah mau lulusan aja." Mitha membuka pembicaraan.

"Iya ya, perasaan belum lama MOS ya. Dibentak-bentak bingung bawa barang PR, eh sekarang udah bingung milih jurusan kuliah." Sahutku kemudian, sambil mengangkat kepala yang sedari tadi aku biarkan terkapar lunglai di atas meja.

Suasana kembali hening, dalam diam seolah kami sepakat untuk bilang 'iya ya,waktu kok cepet banget.' Ketika aku, Mitha, Ina, Linda, Risti dan Rahma asyik dengan lamunan kami masing-masing, terdengar suara sol sepatu yang beradu dengan keramik. Derap langkah yang cukup punya ritme untuk menandakan ada  sepasang langah kaki –yang sangat kami kenal— menuju arah kami. “Woi, Mennn!!!” Teriakan menggelegar dari sesosok manusia berpawakan tinggi, cukup kurus, dengan kulit legam. Menghancurkan hening.
Matanya tajam menyoroti kami satu per satu, mendadak jidatnya mengernyit. Lalu bibirnya ditarik beberapa senti ke arah kiri, entah apa yang ada dibenaknya. Laki-laki yang sekilas nampak garang itu, memang tekadang sulit ditebak. Tarikan napas yang cukup panjang terdengar dari dengus hidungnya, gelagat seperti biasa saat ia akan memberi aba-aba –ketika diadaulat menjadi pemimpin upacara –. Kami menunggu, apa yang akan terjadi selepas napas panjang itu terbuang. “Kalau lagi sama-sama susah, buat yang lain seneng aja dulu. Urusan kita seneng atau enggak, itu belakangan. Ada yang bikin seneng ya Alhamdulillah, tapi kalau nggak ada yang udah. Yang penting, yang lain tetep seneng.” Aku bangkit, menyambar lengannya dengan tonjokan kecil. Kata-kata macam apa itu! Kenapa hanya dengan satu tarikan napas, lantas ia bisa mengeluarkan satu kalimat yang menjawab semua keraguan di pikiran kami? Sebentar, aku dan teman-teman masih di alam bawah sadar, sesekali mengucek-ucek mata, dan menggaruk kepala yang sebenarnya tidak gatal. Bagaimana tidak, seseorang berperangai macam pelakon stand up comedy kini menjelma menjadi manusia super sekelas Mario Teguh. Ituuu! Kini, giliran mata-mata kami yang menyorotnya. Tajam. "Dih. Kalian kenapa?" Tidak tahan dipandangi tak wajar, ia pun mengucap sebuah pertanyaan klise. Sekadar kalimat untuk menyampaikan, 'jangan liatin aku kayak begitu'. Melihat dia kebingungan kami semua tertawa, lepas. "Habis, omonganmu itu hlo. Beneran mau nyaingin Pak Mario." Mitha tak tahan untuk menghakiminya. "Keadaan yang buat aku seperti ini. Hahaha." "Duh, tapi kita lagi stress nih! Mumet!" Kataku menyela tawanya. "Kenape, Set?" "Ya, sewajarnya anak kelas tiga SMA lah. Bingung, habis ini mau kemana." Rahma yang menjawab lalu mendekat ke arahku, tangannya melingkar di leherku. Pandangan matanya seperti bertanya padaku, 'iya kan?'. “Hmmm, ya kejar apa yang kalian impikan lah!”

Seolah mengerti apa yang ingin kami tanyakan, dia kembali berujar sebelum kami lanjut bertanya.

“Kalian tahu kan, aku punya mimpi untuk jadi seorang dokter.  Walaupun aku kebanyakan main, tapi aku nggak pernah main-main sama mimpiku itu. Jas putih itu harus aku pakai di masa depan. Dan untuk pembuktian dari kata-kata ini, dari mimpi ini, saat ini cuma usaha keras dan doa maksimal yang bisa aku lakukan. Aku juga hanya manusia, sebatas pemimpi dan pengharap belas kasih Tuhan. Aku paham prestasi akademikku biasa-biasa saja atau nyaris tidak ada, dan pasti banyak yang mencerca mimpiku yang tidak biasa ini. Tapi buat apa dengar kata orang? Diam saja, cukup buktikan!”

Aku tercengang, seperti tenggelam dalam danau mati lalu mengambang di atasnya. Tenang. Namun sesekali ada ikan-ikan kecil yang menyundul jemari kakiku, membuatku terperanjat dan bangkit dari ketenangan. Iya, kata-kata itu menenangkan dan mengobarkan. Bahkan seorang komedian pun bisa golden ways, pikirku.
Laki-laki yang ‘nampak’ garang yang ternyata punya selera humor tinggi dan juga kerap kali golden ways itu bernama Jaya, teman sekelasku sewaktu kelas XI. Tidak banyak yang tahu di balik kegarangannya dia menyimpan berjuta hal mengejutkan. Dia memang pandai menempatkan diri. Dan yang terpenting, dia tidak pernah pilih-pilih teman!

                                                                                                ***
“Jayaa! Hayo, masa’ rumus seperti itu saja lupa!” Bu Ria nampak kesal melihat Jaya lupa salah satu rumus trigonometri. 

Satu kelas ikut menahan napas, tak tega melihat Jaya kelabakan di depan kelas, tapi kami tak bisa bantu apa-apa. Jaya memang tidak terlalu mahir di mata pelajaran hitungan, Matematika dan Fisika kurasa menjadi musuhnya.

“Ini sudah hampir kenaikan kelas. Kalian jangan sampai sering-sering remidi, nanti bisa-bisa tidak naik kelas. Jaya, kamu harus berhati-hati, nilaimu mengkhawatirkan. Jangan sering-sering meninggalkan kelas ya.” Kali ini Pak Doni guru Fisika yang berganti memperingatkan Jaya.

Jaya memang aktif ikut paskibra dan pramuka, dia juga ketua MPK. Tak heran kalau dia sering ketinggalan pelajaran karena kerap mengikuti kegiatan di luar sekolah.

“Anak kayak begitu, mana bisa jadi dokter. Mimpi kan kudu realistis.” Suara sumbang terdengar dari anak kelas sebelah, yang aku sendiri malas sebut namanya.

Jaya tak gentar, meski sampai naik kelas XII nilainya tak terlalu menggembirakan tapi dia tetap semangat mengejar jas putihnya. Bahkan, semakin dicerca, semakin diremehkan, semakin tidak dipercaya, dia semakin kuat mengejar mimpinya. Fokus, pada jas putih saja.
***

Sayangnya, kelas tiga memecah kebersamaan kami. Aku terdampar di kelas XII IPA 4 bersama Linda, Jaya bersama Mitha dan Risti menempati kelas XII IPA 2, Ina di kelas XII IPA 3, dan Rahma di kelas XII IPA 5. Semetara itu sahabat XI IPA 4 lainnya juga sudah berpencar di seantero kelas IPA. Ah, sedih! Aku dengar sekarang Jaya duduk sebangku dengan Woto, ex XI IPA 4 juga, wah dijamin bakal gokil. Tapi aku hanya bisa menelan ludah karena tak bisa satu forum untuk menggila bersama mereka dua semester ke depan. Jidatku panas seketika. Kesal. Sebal.

Kelas XII berjalan seperti roda grobak siomay abang depan sekolah, cepat sekali putarannya. Serangkaian Try Out, UAS, dan Ujian Praktik terlalui begitu saja. Benar-benar cepat, tak ada adegan slow motion sama sekali!!!! Kemudian UAN menjadi awal tertelannya semua kebersamaan, sebab setelahnya kami akan menempuh jalan kami masing-masing.

26 Mei 2012, sekujur tubuh mengigil di tengah terik matahari yang tengah pongah di atas sana, aneh. Kemudian gigil itu perlahan lumer menjadi satu teriakan serempak yang menggelegar,”LULUSS!!!”. Namun mirisnya, gigil itu datang lagi seper sekian detik setelah teriakan lega kami mengudara. Sebuah ketakutan yang gigilnya berlipat-lipat lebih dahsyat: setelah ini mau kemana dan mau apa?

“WAAAAAAAAAAAAAHH. LULUS KITAA!” Rahma berteriak kencang sekali sembari memeluk erat tubuhku. Sayang, responku kurang baik, standar, biasa, tak antusias.

“Mukamu kenapa? Kusut amat, Set?” Risti menyenggol lenganku, dibarengi Mitha, Ina, Linda, dan Rahma yang melingkar mendekati aku.

Kemudian kuutarakan segala ketakutanku, mereka pun akhirnya paham. Alhasil sore itu, di bawah pohon asem dekat lapangan basket kami menikam kekhawatiran, saling menguatkan, dan percaya semua akan baik-baik saja. Kali ini, tanpa Jaya.
***
“Duh, ini pilihan ketiga apa dong?” Jaya terlihat puyeng mengisi formulir online SBMPTN nya.

“Apa kek yang PG nya jangan lebih tinggi dari pilihn sebelumnya.” Mitha memberi saran.

“Iya ya, yang penting pilihan pertama jas putih.” Mata Jayamengkilat seperti diruntuhi optimisme bermilyar-milyar.

Pagi itu di depan kantor kepala sekolah kami sengaja janjian mengisi formulir pendaftaran SBMPTN bareng-bareng. Sekalian ngisi, sekalian mendoakan satu sama lain biar dimudahkan. Dan di akhir nanti bisa teriak LOLOS bareng.

“Kita ini ngisi buat masa depan hlo, jangan main-main. Doa dulu sebelum ngisi.” Jaya mengingatkan.
Aku tidak banyak komentar, sesekali hanya mencengkram kepala yang mendadak pening. Semalam sudah dibahas dengan keluarga di rumah mau pilih prodi apa, dan ya aku bagai wayang yang mau tak mau melakukan apa yang diinginkan dalang agar ceritanya tetap berlanjut. Tak seperti Jaya yang nampak begitu mantap dengan pilihannya. Meski banyak yang menertawakan,tapi dia tetap kekeuh. Andai aku punya keyakinan seperti Jaya.
Tiga hari masa penentuan itu datang juga. Aku sudah tidak bergairah menjalaninya. Semua soal TPA, dasar, dan IPA malas sekali untuk aku sentuh. Malah setengah jam aku sempat pulas dalam lipatan tanganku. Heran saja aku, kenapa banyak sekali yang begitu gencar ingin kuliah. Entahlah, sejak awal aku memang tak pernah tertarik. Mungkin, karena aku hanya wayang.  Sedang orang-orang yang luar biasa di sekitarku adalah penulis skenario dan sekaligus aktor/aktris dalam hidupnya untuk selanjutnya dikoreksi Tuhan, agar tahu lulus sensor atau tidak.
Sebulan setelahnya, pengumuman itu keluar juga. HP ku berdering bekali-kali, banyak pesan dari teman menanyakan hasilnya. Dengan lincah jemariku mengetik ‘belum rejeki’. Aku juga bertanya pada kawan-kawan yang lain. Hanya Linda yang LOLOS, Teknik Arsitektur UNNES. Bahagia rasanya, setidaknya ada kawan yang bisa memecah mimpinya dengan langkah yang tak terlalu terseok.

Setelah malam itu, Jaya tak terdengar lagi kabarnya. Sampai pada pengumuman jalur mandiri ternyata dia diterima di jurusan Hukum. Kebetulan pada pengumuman itu aku juga diterima di universitas yang sama dengan Jaya, tapi beda fakultas.

Kabar baik terus berdatangan, Ina kuliah di jurusan Hukum Internasional, Mitha akhirnya setelah melewati pertempuran sengit bisa juga kuliah di kebidanan, Rahma tedampar jauh di kota metropolitan sekolah kesehatan, dan Risti di arsitektur. Serangkain ospek dan berbagai tetek bengek sudah dilewati para maru, termasuk aku. Beberapa pekan kuliah aku baru dapat kabar dari seorang teman ketika chat di FB. Sebuah kabar mencengangkan, menggelegarkan.

“Setya, sekarang di mana?”
“Di UNS, kamu di mana Yu’?
“Aku di UGM.”
“Wah. Selamat yaa.”
“Iya. Eh, Jaya keren tuh.”
“Knp? di fakultas hukum dia sekarang.”
“Loh, kamu malah belum tahu Set?”
“Tau apa Yu’?”
“Jaya kan sekarang di UNSOED, Fakultas Kedokteran.”

Glek, serasa mau pingsan aku raih HP dan segera menghubungi Jaya. Sial, no HP nya sudah tidak aktif. Selepas pengumuman aku memang sudah tidak pernah bertanya kabar lagi dengan dia, takut melukai hatinya. Sampai kabar sehebat ini aku malah dengan dari orang lain, ya Tuhan.  Aku putar otak, minta no HP nya ke teman yang lain. Dan akhirnya dapat juga.

“JAYAAA!! KAMU GILAAA!!! GILAAA!”
“Heh, ini siapa?”
“SETYA!!! KAMU GILAAAA!!!” “Woiii men. :D Apa kabar??? Gila gimana??” “KEDOKTERAN UNSOED????!! MEN! AKU TERHARUUUU!!!”
“HAHAHA, santai dulu. Iya, Alhamdulillaaaah, berkat doa kalian juga. Aku dulu juga ampek nangis pas baca pengumuman, nggak nyangka.”
“Ya ampun, Jay! Kamu juga nggak kasih kabar sihhh!!!”
“Maaf, aku ganti no HP dan semua kontak ilang, jadi nggak bisa kasih kabar.”
“Ah, ya udah. Gimana ceritanya bisa ketrima????”
“Ya aku usaha maksimal. Pokonya habis-habisan lah belajarnya, doanya juga. Bumbuku itu cuma usaha+doa (sholat wajib, tahajud, dhuha, dzikir) itu aja, dan Alhamdulillah jadi sekarang :’D.”

Aku mrinding seketika. Benar, Jaya tidak pernah main-main dengan impian jas putihnya. Dari jaya aku belajar banyak, tentu saja tentang mimpi yang harus dikejar mati-matian agar bisa benar-benar jadi  jaya.  Terima kasih Tuhan, sudah hadirkan kawan-kawan luar biasa yang memberiku semangat tanpa  kata-kata, tapi dengan praktik langsung. Saat itu juga aku lantas mengobrak-abrik folder lama, melanjutkan lukisan kata yang mulai usang. Aku haru seperti Jaya, berjuang keras mengusahakan apa yang telah diimpikan. Selamat tinggal wayang, aku akan mulai menulis ceritaku sendiri.

Tuesday, December 3, 2013

Terlambat yang Berkualitas



Guguran Angsana masih menutupi sepertiga bagian jalanan kampus. Aku adalah pengagum Angsana. Yang sangat gemar berdiri di bawah pohon Angsana ketika bunga kuning ini sedang berguguran. Biasanya aku menelentangkan telapak tangan dan mebiarkan Angsana jatuh di sana, atau kalau sedang benar-benar penat aku dongakkan kepalaku menghadap pohon lalu membiarkan bunga-bunga mungil itu menyentuh wajahku. Entah bagaimana, ini menenangkan buatku. Andai saja semua ingatan pahit itu seringan Angsana: mudah gugur dan terbang jauh dibawa angin. Namun aku belajar satu hal dari Angsana, meski kita jatuh dan luruh kita masih bisa terlihat indah. Ya, Angsana yang jatuh ke tanah selalu indah.
Kuhela napas panjang dan melanjutkan perjalanan. Hari ini ada kelas pagi, dan aku sudah terlambat sepuluh menit. Namun langkahku kembali tersendat, kali ini cenderung berat. Kusaksikan ibu-ibu paruh baya mengaduk semen dengan pacul dan perabot lainnya, wajah mereka penuh peluh tapi tetap saja melempar senyum yang buat hati jadi teduh. Tuhan, bukankah lebih baik ibu-ibu ini mengaduk sayur di dapur rumahnya? Menyiapkan makan untuk anak dan suaminya? Tidak malah melakukan pekerjaan yang –menurutku— sekeras ini. Katakanlah memang ibu-ibu tersebut kuat, tapi mereka adalah perempuan. Bagiku tetap menyakitkan menyaksikan mereka begitu, sangat menyakitkan. Bayangan wajah ibu muncul, memang beliau tak bekerja mengaduk semen seperti ibu-ibu ini. Tapi hatinya dan hati semua ibu itu sama, selalu diaduk perasaan cemas tentang keberlangsungan hidup keluarganya. Terutama anaknya. Aku hela napas lebih panjang, sambil membuat pengharapan. Moga Bunda di sana disayang Allah.
Sol sepatuku kembali beradu dengan trotoar kampus, sesekali mengenai Angsana yang berserakan. Sudah lima belas menit keterlambatanku, dan ada hal lain yang membuat langkahku kembali melemah. Seorang perempuan paruh baya dan lelaki paruh baya berjalan beriringan tepat di depanku. Secara otomatis langkahku ikut melamban, mengamati sepasang paruh baya tersebut. Sang lelaki menggenggam sekumpulan kemoceng di tangan kananya, sementara kanan kirinya memegang pundak sang perempuan. Sang perempuan juga tak kalah sibuk, kedua tangannya memeluk beberapa sapu ijuk. Mereka berdua berjalan beriringang, menjajakan kemoceng dan sapu ijuk pada siapa saja yang membutuhkan. Kusaksikan langkah kaki mereka yang pelan tapi  terus saja berjalan, pasti dan jelas arahnya. Meski pelan, tapi mereka pantang mundur. Apalagi memilih duduk dan berharap belas kasih. Tidak, itu bukan mereka. Betapa bergetarnya seluruh isi hati menyaksikan ini semua. Jelas, perasaan malu itu terus menyergap diri. Malu, malu sekali!!! Bukankah harusnya aku bisa semantap mereka? Lebih malah! Ya,  harusnya. Tapi nyatanya? Ya beginilah. Oh ya, kau perlu tahu satu hal. Kenapa sang lelaki memegang pundak sang perempuan? Sebab hanya dengan begitulah sang lelaki bisa ‘melihat’. Itulah yang membuat semua terasa lebih menyayat.

Alhasil aku sampai di kelas hampir setengah jam setelah kelas dimulai. Ya, aku terlambat. Tapi bagiku ini terlambat yang berkualitas. Sebab bisa saja ketika aku tadi tidak terlambat aku hanya akan terpenjara pada kelas pagi dan terhinoptis integral tak tentu atau sebangsanya. Namun dengan terlambat, aku bisa dapat banyak pelajaran di jalan, yang tidak akan pernah aku dapat di dalam kelas. Dan tidak akan pernah aku dapat ketika aku tidak terlambat.
Oleh karena itu, jangan cela orang yang terlambat. Bisa jadi dia memang terlambat yang berkualitas. Bagaimana terlambat yang berkualitas itu? Terlambat yang bukan karena bangun kesiangan, ketinggalan bis, antre mandi, dan kawan-kawannya.