Tuesday, May 5, 2020

Aroma dan Sejuta Kenangannya

Aku baru tahu, sedahsyat itu aroma-aroma mempercikkan kenangan. Kadang indera penciuman langsung bersinergi ke otak, bukan sekadar mencerna aromanya tapi langsung seketika flash back pada kenangan yang dibawa oleh aroma tersebut.
Aroma apapun, parfume, pengharum baju, tanah yang terkena air hujan, pengharum ruangan, bahkan pengharum kamar mandi.
Jadi sering saja tiba-tiba terkesiap, merasa takjub, “wah baunya mengingatkanku pada….” dan seketika sekelebat kenangan menari-nari di seisi kepala. Dari yang membuat cekikikan, menahan napas, hingga sesegukan.
Uwh, tahu gitu, dulu tiap ketemu aku tutup hidung saja ya, daripada aroma parfumenya membekas begini, tiap hirup aroma yang sama susah sekali kendalikan ingatan.
Baik-baik ya, kamu, jangan cuma jaga pandangan, tapi juga jaga pernapasan, awas, aroma juga jadi salah satu ujian ketika sedang harus melupakan. Huft~

    Maafkan Aku, Mas, yang Belum Bisa Sungguh-Sungguh Melupakan

    Kondisi dunia akhir-akhir ini sedang tidak baik, Mas. Termasuk negara kita, juga kota di mana  kita dipertemukan –dan sekaligus dipisahkan. Sebuah virus yang penularannya masif, seketika meluas mengikis kedamain hidup masyarakat dunia. Ah, tentu kamu sudah tahu dengan baik kabar ini. Berita di portal media manapun sedang gencar membahas ini.
    Lalu, bagaimana kabarmu? Keluargamu? Baik-baik sajakah? Apakah kamu juga terpaksa harus menjalani work from home karena tempatmu bekerja sudah masuk zona merah?
    Oh ya, juga kabar mengerikan kembali mencuat. Belum selesai dengan virus mengerikan, di beberapa daerah banyak maling berkeliaran. Ambil beras, ambil hewan peliharaan, dan ambil apa saja. Keadaan sedang segenting ini ya, Mas.
    Lalu bagaimana denganmu? Kabar kesehatanmu? Juga kondisi lingkungan tempat tinggalmu? Baik-baik saja, kan? Semoga begitu, ya.
    Aduh, kok aku masih suka seperti ini ya. Suka tiba-tiba mencemaskanmu, lagi. Suka tiba-tiba ingin mengetahui kabarmu, lagi. Padahal kan jelas-jelas sudah ada yang ambil alih posisi itu, oleh seorang perempuan cantik nan sholehah.
    Tapi tenang, Mas. Aku tentu tidak akan konyol mengusik hubungan kalian, aku hanya sedang belum terbiasa sepenuhnya lepas. Ada banyak penyesuaian yang harus aku lakukan perlahan-lahan. Semoga kamu dan pasanganmu bisa memakluminya. Ia pun perempuan, tentu akan mengerti bagaimana beratnya perjuangan untuk lepas dari seorang lelaki yang ditemani berjuang sejak 8 tahun dengan cerita jatuh bangun, tangis, hingga bahagia, selengkap itu ceritanya dan tentu menutupnya tidak bisa serta merta. Kecuali jika cerita itu hanya dianggap lelucon palsu, maka mudah saja menepisnya seketika, seperti yang kamu lakukan.
    Wonogiri, 5 Mei 2020

    Saturday, February 8, 2020

    Hanya Karena Tak Sepemikiran

    Mau begini dan sebegini adaanya dulu kini, orang enggan coba mengerti bahwa segalanya diniati dengan hati. Tetapi, janggal bagi mereka, dianggap tidak pada area yang semestinya, tidak berpijak pada yang seharusnya.
    Kelak pun jika dilakukan, ini bukan untuk siapa-siapa, selain sekadar menepi dari hiruk-pikur cemoohan dan kalimat-kalimat meremehkan yang kadang kala hati tak bisa tahan.
    Lalu hati berteriak kencang, “jika pilihan ini tak sama dengan pilihan kalian, apakah sungguhan aku mesti ditepikan dan diremehkan? Disalahkan dan dihina habis-habisan?”
    Hanya karena pemikiran yang berpeda, ora jadi menderita trauma tak kasat mata. Ketakutan dan hilang cinta pada dirinya sendiri, berantakan.
    Maka, ada baiknya, siapapun berhati-hati memperlakukan orang lain, sekalipun pilihannya berbeda, toh ia pun berhak untuk itu selagi tak menyalahi agama dan aturan apapun.

    Monday, January 6, 2020

    Ikhlas: Indikasi Move On

    Jika bagimu move on berarti harus melupakan, bagiku tidak demikian. Bagiku, move on adalah representasi dari keikhlasan melepaskan, jadi kalaupun masih tak kunjung lupa, hati bisa tetap baik-baik saja.

    Jika bagimu move on berarti harus segera cari pengganti, bagiku tidak demikian. Bagiku, move on adalah representasi dari keikhlaskan ditinggalkan, jadi kalaupun tak kunjung temukan pengganti, hati bisa tetap baik-baik saja.

    Move bukan hanya perkara lupa dan cari ganti. Patah hati adalah ujian rasa, dan wujud nyata dari move on adalah hati bisa terima dengan ikhlas. Ikhlas jika tiba-tiba ingat kenangan manis hingga cara kejinya ia meninggalakn dan hati bisa baik-baik saja. Ikhlas jika mesti menunggu lebih lama dapat pengganti dan tetap baik-baik saja dalam menjalani hidup. Keduanya adalah bentuk move on yang hakiki, selesai dengan diri sendiri dulu baru buka hati untuk cerita yang baru.

    Kamu bilang move on, buru-buru cari pengganti tapi tujuan utamanya biar bisa dipost di medsos lalu ketika mantanmu lihat kamu berharap dia menyesal mencampakkanmu? Move on dari mananya? Kalau tujuan utamamu masih melulu soal dia lagi dia lagi. 

    Wednesday, January 1, 2020

    KAMU BERBEDA, DAN ITU TIDAK MENGAPA

    Sudah berganti tahun, barangkali masih ada hati yang belum sembuh selepas dicampakkan dan ia ada di antara orang-orang yang kemudahan rasanya berlimpah. Maka patah hati hanya macam cerita lucu yang pantas ditertawakan, bucin, katanya.

    Barangkali, masih ada pula yang sibuk dengan bisnis kecil-kecilan dengan penghasilan naik-turun, dirintis pelan-pelan dan ia ada di antara orang-orang yang bekerja sebagai karyawan swasta maupun negara dengan penghasilan bulanan yang pasti. Maka bisnis kecil hanya lelucon, buang tenaga tak ada hasil. Kapan mau kaya? Begitu celotehnya.

    Barangkali, masih ada juga yang sibuk menekuni bakat dan minat, entah kerjinan tangan, menulis, atau apapun itu, dan ia berada di antara orang-orang akademis yang pikirannya serba matematis, logis, dan realistis. Minat bakar berupa kerajinan hanya bualan, dongen tulisan hanya romansa abu yang penuh halu.

    Untuk beberapa hal, kita mungkin akan jadi berbeda dari orang sekitar. Dan kita tidak perlu susah payah berlelah-lelah menjelaskan perbedaan itu. Kita hanya butuh yakin pada diri sendiri serta berusaha lebih keras agar menjadi berkilau dengan seuatu yang -dianggap- 'berbeda' itu. 

    Tuesday, December 31, 2019

    Dua Ribu Sembilan Belas dan Kisah Kasihnya yang Membekas

    Dua ribu sembilan belas diawali dengan kerja keras, demi utang gelar agar segera tuntas.
    Lika-likunya berjalan mengasyikkan, segala lelah dibayar oleh hasil yang memuaskan secara tuntas.

    Perayaan kelulusan yang tidak terlalu kudambakan justru malah menjadi moment yang memikat.
    Orang-orang tersayang datang mengucap selamat dan pelukan hangat.
    akhirnya semua sudah dilalui dengan kecepatan kilat tapi hasil super akurat.
    Bukan karena seorang aku yang hebat, tapi merekalah yang membuatku kuat dan tetap stabil jaga semangat.

    Dua ribu sembilan belas pertengan membuatku mampu mewujudkan satu mimpi dambaanku, membuat kelas menulis.
    Tidak kusangka, mini kelas online maupun tatap muka secara langsung diminati oleh teman-teman yang ingin ketahui tata cara menulis dan dalam setiap meteri mereka tidak apatis.
    Untuk awal yang cuma coba-coba tapi responnya sedahsyat ini membuatku jadi terharu sampai menahan tangis.

    Dua ribu sembilan belas disusul dengan kabar lolosnya aku jadi pegawai LPPM kampus.
    Kerjanya seru, bertemu orang baru, pengalaman baru, tapi aku membohongi diriku setengah mampus.
    Pekerjaan ini hanya sebatas eksistensiku untuk jawab pertanyaan, "sekarang kerja di mana?", sekadar luapan diri untuk diakui yang ambisius.
    Aku meninggalkan usahan Serabi Joglo yang akhirnya jadi keteteran, pelanggan banyak yang kecolongan karena kedai sering tutup, mereka hanya bisa mendengus.
    Aku? Makin jadi ingin segera putus dari luapan pengakuan yang ambisius.
    Akhirnya, satu bulan aku putus kontrak, dengan segala pemikiran dan pilihan hati yang tulus.

    Patah hati besar juga jadi bagian dari dua ribu sembilan belas.
    Ditinggal setelah bertahun-tahun masa tunggu dan terima banyak keadaan ini itu justru lenyap tak membekas.
    Seseorang menemukan hati yang lain, dan aku dicampakkan tanpa pamit, aku hanya dihempas.
    Sesak dan rasanya jadi sukar bernapas.
    Hari pertama patah hati, selepas kusaksikan 15 detik story di laman media sosialnya, remuk redam dan sekujur tubuh terasa lemas.
    Sebegini sajakah kisah ini dirampas?
    Beruntung, sahabat-sahabat baik memberi kekuatan mengembalikan tawa yang sempat hilang tak berbekas.
    Aku hanya ingin ikhlas, meski mengkal dan segala kecewa tak akan usai disembuhkan di dua ribu sembilan belas.

    Menjelang akhir dua ribu sembilan belas, aku yang sedang susah payah menyembuhkan patah hati dipertemukan dengan Kelas Inspirasi.
    Jiwa pendidikku kembali menggeliat, bertemu anak-anak akan jadi salah satu alternatif penyembuh patah hati.
    Dan sungguh terjadi, di Kelas Inspirasi Wonogiri aku jadi tahu makna berbagi yang sungguhan murni berbagi.
    Juga polosnya adik-adik manis yang jadi obat hati tersendiri.

    Dua ribu sembilan belas penuh dengan kisah dan kasih yang nano-nano, rasanya ramai.
    Lengkap, ada bahagia yang bahagia sekali, ada sedih yang sedih sekali.
    Tidak terasa, 2019 sudah segera pamit, diganti 2020 yang kisah barunya akan segera dimulai.

    Tentu harapan harus tetap dijaga, semangat juga tak boleh hilang kendali, yang terpenting hati damai dan pikiran buruk tidak hantui diri di 2020 nanti.
    Sebab, apa yang sejatinya dicari? Iya, kedamaian hati pada segala kondisi, pada segala keadaan kurang maupun lebih dalam hidup ini.

    Sekian, 

    Asri

    Monday, December 23, 2019

    Berbenah Dulu, Baru Pindah

    Bagiku, pindah hati seperti halnya pindah rumah yang tidak bisa serta merta begitu saja. Harus berbenah dulu, berkemas segala sesuatunya yang ada di rumah -atau hati- lama lalu baru pindah ke rumah -atau hati- yang baru. Segala sesuatunya harus ditata rapi, selesai, agar tidak jadi keresahan di kemudian hari. Jika pindah rumah perlu kiranya membawa segala bentuk barang penting dari rumah lama agar tenang mendiami rumah yang baru, sama halnya dengan melebur sesak di hati lama setuntas-tuntasnya hingga bisa tenang mendiami hati yang baru.
    Jadi biarkan, hati sejenak berbenah, merapikan segala carut marut di hati sebelumnya. Sesaknya dibersihkan dulu, cerita pahitnya dikemas dulu, dendamnya ditinggal saja biar usang dan hilang, kecewanya kembali di tata sebagai pengingat agar tidak terulang lagi ketika menempati hati yang baru. Jika semua sudah rapi, setiap rasa sudah menempati tempatnya masing-masing dan yang mestinya tinggal tak perlu dipaksa dibawa karena hanya akan memenuhi isi hati, maka bergegas cari hati yang baru lagi.
    Sebaik-baiknya pindah adalah pindah yang tidak buru-buru. Selesaikan berbenah hati dulu, baru pindah. Agar pindahmu bukan semata untuk menutupi luka, pindahmu harus sebenar-benarnya pindah tanpa ada sangkut pautnya dengan hati yang lama. Pindah, karena yang sebelumnya sungguh-sungguh sudah.
    Asri, 22 Desember 2019