Sunday, December 1, 2019

Sesat Sesaat

Ada resah yang menggeliat.
Jadi tameng bagi rasa yang tak terikat.
Ini tabiat.
Dari seorang kamu yang teramat memikat.
Dan dari yang tak berlabuh hingga merakit jala yang terlambat.

Sudah luruh tersesat.
Biar hati yang lebam penuh bebat.
Sedang akal tetap tak boleh tamat.
Tetap lajukan langkah, menepi dari semua muslihat.

Asri, 1 Desember 2019

Pupus di Lap Terakhir

Serupa pembalap moto gp yang berada di lap terakhir, di tikungan tajam terakhir menuju finish. Tahu-tahu ditikung, diserempet hingga menggasak aspal dan terbentur lajur jalan. Aku selamat, tidak menderita luka begitu parah, hanya cedera ringan yang entah kenapa tetapi sukar sekali disembuhkan. Bukan sekadar memar dan perihnya, tapi sesaknya, nestapanya, nyeri batinnya.
“Sudah, sampai di sini saja?”
Setelah sekian lap terlewati, berulang kali menggasak point demi point untuk jadi yang pertama, berjuang habis-habisan merebutkan start paling pertama. Tapi tiba-tiba, podium hanya angan. Semua pupus di tikungan tajam lap terakhir.

Tuesday, August 6, 2019

Melihat dengan Matamu

Tidak semua orang diberikan nikmat sempat untuk melihat dengan kedua mata yang sempurna, tetapi Allah selalu Maha Adil dalam segala hal. Seseorang dengan kekurangan pengelihataan ternyata dianugerahi mata hati yang lebih kuat.
Aku tercekat, di sebuah jalan menuju lembah harapan, seorang perempuan tua memapah seorang lelaki lebih tua. Perempuan itu mempersilakan sang lelaki meletakkan telapak tangannya di atas pundaknya. Dan dengan pundak perempuan itu, si lelaki melihat arah lajunya.

Beberapa kali, aku juga melihat, si lelaki membelai si perempuan, dengan lembut dan penuh kehangatan, ya aku dapat merasakan. Barangkali matanya tak dapat melihat, tetapi hatinya tidak mati, bahkan melebihi kita yang dapat melihat. Pendengarannya pun ternyata memiliki radius lebih tajam, kepekaan jemarinya pun lebih terasah. 

Lalu, bagaimana dengan kita? Yang lengkap sempurna organ tubuhnya, tetapi kerap pura-pura tak melihat, pura-pura tak mendengar, pura-pura tidak peka. Sesekali coba lihat, mereka yang punyai keterbatasan tapi melakukan hal melampaui batas tanpa keluhg kesah. Sedangkan banyak yang dilimpahi kesempurnaan dan kesempatan, tapi tak segera melakukan tindakan, hidupnya hanya dilingkupi keluhan hariannya. Begitulah kita, aku lebih khususnya, pada kenyataannya.

Wednesday, May 30, 2018

Diam-Diam Aku Juga Menyimpan Jenuh



Usiaku akan genap 24 tahun di tahun ini, usia yang cukup terlambat jika belum menuntaskan pendidikan S 1. Orang-orang menilaiku begitu bersemangat, meski sudah hampir 6 tahun utuh kuliah, 2 tahun di jurusan yang salah, 4 tahun di jurusan yang aku minati. 6 tahun, bocah sekolah saja sudah lulus SD semestinya. Tapi, kadang kala bukan masalah ingin mendapat gelar atau hak-hal heroik apapun itu. Sesepela, sesak tiap kali bertukar cerita kepada teman-teman sebaya atau bahkan adik kelas semasa SMP atau SMA. Beberapa sudah sibuk mengurus tesis untuk gelar masternya, beberapa sedang semangat keliling dunia untuk menuntaskan pekerjaannya, beberapa nampak sibuk sekali mengurus beasiswa ke luar negeri, beberapa juga sedang beradaptasi karena baru masuk CPNS. Aku tentu gembira mendengar kabar baik itu, ikut bangga pernah menjadi bagian hidupnya meski tak pernah berkontribusi apapun untuk jalannya menuju kesuksesan. Namun, naluriku sebagai manusia utuh yang punya hati, diam-diam aku menyimpan kejenuhan. Aku merasa hidupku begini-begini saja, jalan di tempat tanpa punya arah yang jelas. Jenuh, ya kalau boleh mngeluh jenuh, bosan, aku akan selalu berteriak-teriak jenuh dan bosan setiap hari, keras, kencang, sampai hatiku sedikit bisa lega.

Tapi aku tahu, meneriakkan kejenuhan dan kebosanan bukanlah pilihan yang baik untuk menentramkan hati, tidak pula akan memberi solusi. Tak ada guna. Meski sekarang aku sedikit pontang-panting melawan cekikan jenuh, bosan, malas , dan apapun itu sebutannya. Meski berulang kali aku merasa ingin luruh, berhenti saja, ini semua sudah cukup. Meski berulang kali aku terseok-seok menghentikan langkah di beberapa tepian kisah ini. Meski banyak hal membuatku jatuh, tersungkur, tapi aku (harus) kuat. Kejenuhan ini harus ku obati dengan semangat yang kupaksakan setiap saat, paling tidak, biar aku tidak dipecundangi oleh diriku sendiri, oleh pikiran burukku sendiri, oleh apapun hal buruk yang lahir dari diriku sendiri.

Wonogiri, 30 Mei 2018

Tuesday, May 29, 2018

Ada Baiknya Kita Bertemu


Ada baiknya kita bertemu saja, duduk di  teras rumahmu yang masih sejuk dan teduh. Kita bebas bicara apa saja, mengutarakan apa kegelisahanmu, menceritakan hal-hal yang membuatmu penat belakangan ini, atau apapun. Aku ingin dengar ceritamu.

Ada baiknya kita bertemu saja, belakangan aku memang tidak suka berkabar lewat pesan singkat. Bahasa pesan singkat itu menyesatkan, multi tafsir dan membuat asumsi-asumsi bertebaran sesukanya. Apalagi perihal last seen dan centang biru yang kerap mengundang pikiran buruk.

Ada baiknya kita bertemu saja, sendumu terasa nanar akhir-akhir ini, aku ingin tahu apa yang membuatmu begitu gusar. Kepindahanmu kah? Atau malah kau masih bimbang? Coban ceritakan, kita duduk di warung pinggiran kota ini, menghabiskan waktu menuju petang, tanpa meninggalkan seruan-Nya.

Jadi, kapan kita bisa bertemu? Sore ini, mungkin?


Pulang, Sayang

Ada yang sedang perang
Bergumul saling serang

Siapa, Sayang?

Hatiku yang tak tenang dengan pikiranku yang gersang, Sayang
Kesemuanya beradu menujumu, Sayang
Keduanya ingin rebah dalam dekapanmu, Sayang

Rebahlah, adukanlah, Sayang
Kemarilah, pulang

Sebentar, belum saatnya pulang
Seserahan dan seperangkat alat salat masih menjadi hutang
Tunggu sebentar lagi, kamu akan menjadi rumah, tempat di mana asa dan rasaku pulang

(Prasetyani Estuning Asri, 2018)




Sunday, June 15, 2014

Lima Ratus Delapan Belas Kata untuk Bapak



Bapak, terima kasih telah mengajarkanku tentang kesetiaan, meski dirimu tidak pernah memberiku pengertian bahwa setia adalah bla bla bla. Tapi dari caramu merawat dan mendampingi Ibu dalam satu tahun lebih masa meyakitkan yang membuat Ibu tak lagi bisa berjalan dan bahkan tidur untuk selamanya, aku mampu memahami dengan baik setia itu seperti apa. 

Bapak, terima kasih telah menjadi alarm makanku yang rutin mengingatkan tiga kali sehari. Padahal aku pun tahu, ketika kau menelpon dan bertanya “Sudah makan? Cepat makan.” kau sendiri mungkin sama sekali belum menyentuh perabotan makan. Padahal, mestinya kau menjaga dirimu lebih baik ketimbang menjaga aku. Ah, tapi entahlah, orang tua memang selalu begitu, kerap mengkhawatirkan anak-anaknya tapi abai dengan dirinya sendiri. 

Bapak, terima kasih telah rutin mencium kedua pipiku ketika kita akan merajut jarak dalam beratus-ratus kilometer. Aku tidak malu meski kau pernah melakukannya di depan teman-temanku, justru aku bangga karena mampu membuat mereka iri. Ya, mereka bilang “Bapakmu so sweet sekali. Astaga, aku bahkan sudah lupa kapan terakhir kali dicium Bapakku.”

Bapak, banyak yang bilang kau adalah dua sosok sekaligus dalam hidupku saat ini: Ibu dan Bapak. Tapi bagiku Bapak ya Bapak, Ibu ya Ibu. Aku tidak suka menggabungkan dua sosok itu menjadi satu, sabaik-baik Bapak dia tetap Bapak, bukan Ibu. Pun juga sebaliknya, sebaik-baik Ibu dia tetap Ibu, bukan Bapak. 

Bapak, belakangan ini mungkin banyak keputusan yang aku ambil membuat harapanmu putus. Aku mulai memiliki kesadaran berlebih tentang ‘ini hidupku’, hingga ambisiku mengejar target-target pribadi menggugurkan segala mimpimu tentang aku. Maaf, atas segala tindakan menyakitkan dan ucapan yang teramat kasar, aku payah dalam upaya menjelasakan apa yang aku rasakan dan apa yang aku inginkan.

Bapak, sejujurnya aku mengambil keputusan ini bukan karena aku tidak tahan tapi karena aku memang tidak mau bertahan. Terima kasih telah menaruh kepercayaan dan keyakinan penuh padaku, tapi menurutku semua itu terlalu berlebihan. Aku tidak sekuat yang Bapak kira, aku juga bukan anak sulung Bapak yang mempunyai talenta di bidang sains. Aku adalah anak ke dua Bapak, yang amat tergila-gila menyusun kata hingga membentuk kalimat dan menaruhnya pada tumpukan paragraf. Aku mencintai dunia menulis, Pak. Sungguh. Dan biarkan untuk kali ini aku memperjuangkan apa yang aku cintai, meski aku harus melukai orang yang aku cintai:Bapak. 

Bapak, jika aku memaksakan bertahan di sini itu berati aku hanya akan membuat Bapak semakin sakit. Maka untuk pertama kalinya dalam hidupku, ijinkan aku mengambil keputusan sepihak ini. Lalu beri aku kesempatan untuk membuktikan, bahwa bahagiamu ada pada pilihan yang aku pilih saat ini.  
Bapak, meski aku bukan anak yang penurut, meski aku bukan anak yang patuh, meski aku bukan anak yang rajin, meski aku bukan anak yang pintar, meski aku bukan anak yang menyenangkan, meski aku bukan anak yang membanggakan, meski aku bukan anak yang....ah sudahlah. Tapi sungguh, di balik kenakalanku dan kesulitanku untuk diatur, aku menyimpan cinta yang utuh untukmu, Pak. Jangan ragukan soal itu. 

Untuk saat ini aku tidak bisa menjanjikan kapan akan menghadirkan kebahagiaan untukmu, tapi percayalah aku akan berjuang untuk itu, sekuat yang aku bisa. Semoga Tuhan senantiasa membantumu untuk melapangkan kesabaran dalam manghadapi aku. Dan kuharap kau mulai belajar mencitai dirimu sendiri, kesehatanmu. Aku mencintaimu, selalu dan selamanya.